Tuberculosis Banyak dijumpai Pada Orang dengan HIV AIDS (ODHA)

0
45

Indonesia termasuk dalam epidemi HIV terkonsentrasi, sehingga upaya penanggulangan perlu difokuskan pada populasi risiko rawan tertular HIV pada beberapa wilayah prioritas dengan melibatkan komunitas dan stakeholder terkait. Namun untuk menekan laju epidemi HIV yang terjadi maka upaya pencegahan perlu dilakukan secara meluas di seluruh provinsi dan kabupaten/kota sebagai upaya percepatan pencapaian target Tujuan Pembangunan Global

Sejak ditemukan kasus pertama di Bali pada tahun 1987, epidemi AIDS di Indonesia dalam periode kurang lebih 20 tahun menunjukkan kecenderungan kenaikan yang luar biasa bahkan pada beberapa Daerah berdampak pada kesakitan dan kematian yang terus meningkat.

Berbagai upaya pengendalian harus dibangun sejak dini dan secara terintegrasi serta di inisiasi oleh setiap level pemerintahan dan di dukung oleh semua sektor untuk meminimalisir dampak buruk yang dapat ditimbulkannya. Semua provinsi di Indonesia sudah melaksanakan berbagai program upaya pengendalian HIV dan AIDS namun masih perlu lebih ditingkatkan dan diperluas hingga kabupaten/kota agar secara epidemiologis dapat memberikan dampak nyata dalam penurunan laju epidemi HIV dan AIDS di Indonesia.

Program pencegahan, secara umum, ditujukan agar setiap orang mampu melindungi dirinya agar tidak tertular HIV dan tidak menularkan kepada orang lain. Secara spesifik pencegahan pada kelompok tertular ditujukan untuk menghambat lajunya perkembangan HIV, memelihara produktifitas individu dan meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan pencegahan pada kelompok berisiko tertular ditujukan untuk mengubah perilaku berisiko menjadi perilaku aman.

Saat ini kita menghadapi epidemi ganda, yaitu epidemi HIV dan AIDS, dan epidemi pengguna narkoba suntik yang menjadi ancaman yang sangat mendesak, mengkhawatirkan dan membutuhkan respons yang tepat dan cepat di Indonesia. Selain itu faktor yang tetap menjadi perhatian adalah penularan HIV melalui hubungan seksual yang kini kembali meningkat sejak tahun 2007.

Menurut Bpak Ferry Y, SKM.,M.Kes Selaku Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit memaparkan “Berdasarkan data resmi dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, sampai dengan Desember 2016 secara kumulatif jumlah orang dengan HIV dan AIDS tercatat sebanyak 2.465 kasus, yang terdiri dari 1.219 kasus HIV dan 1.246 kasus AIDS yang tersebar hampir seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan. Dilihat dari kelompok umur, pengidap terbesar pada kelompok umur 20-29, yaitu sebanyak 36,4%, kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 40,3% dan kelompok umur 40-49 tahun sebanyak 10,8 %. Sedangkan faktor penyebab utama sekarang kelompok heteroseksual (13%), tetapi kelompok pengguna napza suntik sebesar (3,9%), sedangkan lainnya (83.1%)” ujarnya.

“Namun demikian prevalensi HIV dan AIDS yang kelihatannya masih rendah harus terus diwaspadai karena Estimasi Kemenkes RI tahun 2012 memperkirakan jumlah orang dengan HIV dan AIDS di Indonesia sudah mencapai 591.823 orang. Data ini menunjukkan kepada kita betapa besar resiko yang dihadapi kelompok penduduk usia muda saat ini di Indonesia. Hal ini terjadi akibat masih kurang seriusnya penanganan masalah, sehingga timbul kesenjangan yang serius antara kebutuhan dan ketersediaan pelayanan untuk HIV dan AIDS” Kata Ferry.

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor.1278/Menkes/SK/XII/2009 tentang Pedoman Pelaksanaan Kolaborasi Pengendalian Penyakit TB-dan HIV dinyatakan bahwa pelaksanaan Pengendalian TB dan HIV perlu dilaksankan secara terpadu mulai dari tingkat pusat sampai dengan fasyankes kab/kota.

Epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menunjukkan pengaruhnya terhadap peningkatan epidemi Tuberkulosis (TB) di seluruh dunia yang berakibat meningkatnya jumlah pasien TB di tengah masyarakat. Pandemi ini merupakan tantangan terbesar dalam pengendalian TB dan banyak bukti menunjukkan bahwa pengendalian TB tidak akan berhasil dengan baik tanpa keberhasilan pengendalian HIV.

Sebaliknya TB merupakan penyebab utama kematian pada Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Tuberkulosis merupakan infeksi opportunistik yang terbanyak (30,9%) dijumpai pada ODHA dibandingkan dengan penyakit opportunistik lain.

Untuk klien yang melakukan layanan VCT dan diskrining TB sampai dengan Desember 2016 sebanyak 589 orang (75%).

Pertemuan Konseling dan tes HIV untuk petugas HIV, petugas TB dan kia GF AIDS NEW FUNDING MODEL (NFM) pada Senin / 20 maret 2017 dihadiri serta difasilitasi oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Prov.Sumsel Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Fasilitator.