Penasun dan LSL Cukup Signifikan

0
19

Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia dalam 8 (delapan) tahun terakhir telah terjadi perubahan dari low level epidemic menjadi concentrated level epidemic, terbukti dari hasil survei pada subpopulasi tertentu yang menunjukkan prevalensi HIV di beberapa Provinsi telah melebihi 5 % secara konsisten. Pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan pengendalian diprioritaskan pada pencegahan tetapi dengan semakin meningkatnya infeksi HIV dan kasus AIDS yang memerlukan pengobatan ARV, maka strategi pengendalian HIV saat ini dilaksanakan dengan memadukan pencegahan, perawatan, dukungan serta pengobatan.

Dengan meningkatnya jumlah kasus infeksi HIV khususnya pada kelompok pengguna napza suntik (penasun/IDU = Injecting Drug User) dari tahun 2004 sd 2007, akan tetapi setelah tahun 2007 cara penularan beralih dari penggunaan narkoba suntik ke heteroseksual yang paling dominan yaitu 53 %. Cara penularan melalui hubungan heteroseksual nampaknya masih mendominasi temuan kasus sampai dengan sekarang tahun 2015. Dari data yang ada, kebanyakan mereka yang berisiko tertular HIV tidak mengetahui akan status HIV mereka, apakah sudah terinfeksi atau belum. Oleh karena itu untuk meningatkan cakupan seoptimal mungkin dan sedini mungkin merupakan suatu strategi yang sedang dilakukan dengan bekerja sama juga dengan LSM terkait dalam kegiatan penjangkauan.

Di tahun 2016 secara nasional, kumulatif HIV sampai dengan Desember 2016 sebanyak 232.323 pengidap sedangkan kumulatif AIDS sebanyak 86.780 penderita. Dari 319.103 orang yang hidup dengan HIV/ AIDS, yang masuk perawatan ARV sebanyak 236.933 orang, sedangkan yang pernah menggunakan ARV sebanyak 149.754 orang dan yang masih menggunakan ARV sebanyak 77.748 orang, dengan persentase lost follow up sebesar 21 %.

Berdasarkan data terakhir dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera selatan dari 1995 sampai dengan Desember 2016 secara kumulatif Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) di Sumatera Selatan berjumlah 2.465 kasus, yang terdiri dari Pengidap HIV berjumlah 1.219 jiwa dan Penderita AIDS berjumlah 1.246 jiwa. Terdapat 2.071 orang yang masuk ke perawatan ARV sedangkan yang pernah menggunakan ARV sebanyak 1.463 orang dan sampai dengan Desember 2016 yang masih mengunakan ARV sebanyak 579 orang.

Untuk mendukung strategi pengendalian HIV dan upaya penanggulangan AIDS di Provinsi Sumatera Selatan Indonesia, maka perlu dilakukan Pertemuan Evaluasi dan Validasi Data Program HIV/ AIDS di Sumatera Selatan. Pertemuan ini merupakan pertemuan evaluasi program selama tahun 2016, dimana akan membahas kelengkapan data program, validasi data, dan pencapaian indikator program. Hasil pertemuan ini sangat berguna untuk merencanakan kegiatan di tahun berikutnya agar pelaksanaannya dapat maksimal sehingga indikator program bisa tercapai.

Mengutip pernyataan Sekretaris Dinas, Bpk. dr. H. Trisnawarman, M.Kes. “Pada pertemuan ini selain dilakukan sosialisasi mengenai isu terbaru dari pengendalian program HIV/ AIDS dan IMS juga dalam rangka meningkatkan kapasitas para pemberi layanan HIV/AIDS dan IMS, serta memperkuat akselerasi program HIV/AIDS dan IMS yang selama ini masih mempunyai beberapa kelemahan seperti masih banyak perbedaan dalam pengertian setiap variabel laporan, padahal data HIV/ AIDS dan IMS merupakan satu hal yang sangat penting untuk melihat pola epidemi yang terjadi saat ini dan prediksi di saat mendatang, karena penularan melalui jalur seksual masih menjadi risiko penularan yang tertinggi dan masih akan menjadi yang tertinggi di beberapa tahun mendatang”. Lanjut lagi Trisnawarman mengatakan, “bila kita melihat makin maraknya kelompok risti baik KAPs maupun di masyarakat umum, seperti fenomena makin banyaknya kelompok LSL atau biasa disebut dengan Lelaki Suka Lelaki yang bermunculan baik yang usia muda maupun dewasa, serta didukung dari laporan triwulan IV sampai dengan Desember 2016 yang menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan dari kelompok LSL (Lelaki Suka Lelaki) dan Pria Risiko Tinggi, dengan adanya pendataan yang baik maka dapat menjadi dasar bagi program untuk menetukan intervensi yang dilakukan” Tegas Trisna.

Oleh karena itu senada pula dengan isi sambutan oleh Ketua Pelaksana, Bapak. Martindra Mirlansyah, SKM mengatakan, “Tujuan dari kegiatan ini adalah : Melakukan evaluasi pelaksanaan program dan kelengkapan data program tahun 2016, Melakukan validasi data program tahun 2016, dan Mendapatkan informasi baru terkait program penanggulangan HIV/ AIDS dan PIMS”

Pertemuan yang dihadiri oleh Narasumber dari Subdit AIDS dan PMS Kementerian Kesehatan RI, Narasumber Kota Palembang dan narasumber Lintas Sektor, Kepala Bidang Bina P2P Dinas Kesehatan Prov.Sumsel, Kepala Seksi P2PM Bidang P2P Dinas Kesehatan Prov. Sumsel, dan peserta Pengelola Program HIV/AIDS dan IMS dan Petugas Puskesmas di 17 Kab/Kota Sumatera Selatan, Ikatan Profesi, lintas program dan lintas sektor dengan total peserta 49 orang. Dengan rincian 32 orang peserta Fullboard, 17 orang peserta Fullday.

Materi yang disampaikan pada tanggal 5 sampai dengan 7 April 2017 di Ballroom Hotel Maxone ini diantaranya : Analisis dan Situasi Program Pengendalian HIV/ AIDS dan PIMS di Provinsi Sumatera Selatan, Peran Komunitas dalam Program Pengendalian HIV/ AIDS dan PIMS, Kebijakan Program Pengendalian HIV/ AIDS dan PIMS, Konseling Testing HIV, Stadium Klinis HIV, Penatalaksanaan IMS, Pemeriksaan Serologis HIV dan IMS, Info dasar HIV/AIDS dan IMS, Pencatatan dan Pelaporan IMS, SUFA dan LKB, Serta RTL