Rumah Inovasi Kesehatan (Rumah Intan) menyelenggarakan Kegiatan Pembelajaran inovasi, replikasi inovasi penanggulangan stunting dilaksanakan pada 24 Mei 2019 di  Rumah Sakit Umum Daerah Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan km 6 Palembang dihadiri 40 orang peserta dari Kab/kota se Sumsel menampilkan 4 inovasi yaitu inovasi garpu genting (Gerakan Peduli Cegah Stunting) dari Puskesmas Pian Raya Kabupaten Musi Rawas, inovasi fun for mom dari Kota Puskesmas Sako Palembang, inovasi pak camat (Pantau Kilat Calon Mama Terpadu) dan inovasi tebu manis (Tepung Bubur Masak Praktis) dari Puskesmas Simpang Periuk Kota Lubuklinggau.

Inovasi yang berjudul garpu genting singkatan dari gerakan peduli cegah stunting. Inovasi ini menjadi solusi penanggulangan stunting di wilayah terpencil, sangat terpencil dan mayoritas keluarga miskin. Inovasi yang dilaksanakan di desa pian raya kecamatan Muara Lakitan Kabupaten Musi Rawas ini meliputi dua aspek intervensi gizi yaitu intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Intervensi gizi spesifik meliputi, Pertama, pemantauan gizi keluarga dilakukan dengan mengunjungi rumah ibu balita yg tidak hadir diposyandu. Kedua, Penanganan kasus gizi buruk dengan pendampingan kasus gizi buruk dan sistem rujukan ke rumah sakit. Ketiga, Pendampingan kader gizi dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan konseling gizi, cara dan pengolahan makanan bergizi, dan pola asuh yang baik.kegiatan ini dilaksanakan di puskesmas setiap hari senin yang mewajibkan orang tua dan balita nya yang datang untuk mendapatkan makanan bergizi lengkap dengan syarat orang tua dan balita dalam keadaan bersih sebagai upaya melatih ibu merawat anaknya dg baik juga untuk membudayakan PHBS . Keempat, Pemberian makanan tambahan dan makanan lengkap di posyandu . Untuk PMT di posyandu tersedia pojok misu mate(minum susu makan telur).Pemberian PMT, makanan lengkap di posyandu dan pemberian makanan lengkap setiap hari senin di puskesmas biaya nya dari dana desa. Sedangkan untuk intervensi gizi sensitif berupa: Pertama, penguatan 6 posyandu Kedua, Pembinaan terpadu dengan lintas sektor, berupa bantuan hibah kolam terpal ikan lele dari dinas perikanan.Ketiga, kegiatan bedah jamban keluarga Keempat, pemberdayaan keluarga melalui peningkatan pendapatan keluarga dengan memanfaatkan dana desa untuk usaha sewa tenda yg pekerja nya melibatkan orang tua balita stunting.

Inovasi yg berjudul fun for mom merupakan inovasi untuk meningkatkan cakupan asi ekslusif dan IMD melalui edukasi kepada ibu ibu dengan permainan  yang menyenangkan bekerjasama dengan asosiasi ibu menyusui indonesia (AIMI) sumsel sebagai konselor ASI.media permainan berupa table yg terbuat dari bahan plastik dan dadu, juga bekerjasama dengan dinas pertanian dalam menyediakan bibit daun katuk untuk diberikan pada ibu hamil. Inovasi fun for mom dilaksanakan diposyandu di wilayah kerja puskesmas sako kota palembang.

Inovasi yang berjudul pak camat singkatan dari Pantau Kilat Calon Mama Terpadu. Inovasi ini dilaksanakan di wilayah puskesmas simpang periuk kota Lubuklinggau bekerjasama dengan KUA Lubuklinggau Selatan II. Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan calon pengantin dengan memberikan pelayanan kesehatan berupa: Pertama, Pengukuran tinggi badan, berat badan dan lingkar lengan atas caten perempuan. Kedua, Pemeriksaan tekanan darah, Ketiga, Pemeriksaan HIV – AIDS, khusus calon pengantin wanita ditambah pemeriksaan : kadar hb, imunisasi tt, pemberian tablet tambah darah dan PMT (Pemberian Makanan Tambahan).

Inovasi yg berjudul tebu manis singkatan dari tepung bubur masak praktis. Inovasi ini menggunakan tepung beras merah yg disangrai dan dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan dalam waktu singkat. Beras merah dipilih karena mengandung zat besi lima kali lipat, serat dua kali lipat dan vitamin B1 hampir dua kali lipat dibandingkan beras putih.

Kepala dinas kesehatan provinsi sumatera selatan.Dra.Lesty Nurainy, APT, M.Kes dalam sambutannya mengatakan “bahwa tujuan dilaksanakan kegiatan ini untuk memfasilitasi kab/kota dalam melakukan replikasi inovasi dan membangun kolaborasi antara provinsi dan kab/kota serta untuk mensukseskan instruksi gubernur nomor 1280 tahun 2018 tentang Gerakan One Agency One Innovation. Lesty mengatakan bahwa dalam melakukan replikasi inovasi tidak bisa disamaratakan , tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi kondisi masing masing wilayah serta penyebab terjadinya”.