Skizofrenia (Gangguan Mental Kronis)

0
479

Daftar Informasi Publik | Serta Merta
Karya Tulis,
Oleh : Rini Oktarina, SKM., MKM

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan parah dimana penderita memiliki kesulitan memproses pikiriannya, sehingga dapat berhalusinasi dan  berperilaku yang tidak wajar. Orang dengan skizofrenia kesulitan berinteraksi dengan orang lain.Menurut data American Psychiatric Association (APA) (1995), menyebutkan bahwa 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. Penelitian yang sama oleh World Health Organization (WHO) juga mengatakan bahwa prevalensi skizofrenia dalam masyarakat berkisar antara satu sampai tiga per mil penduduk dan di Amerika Serikat, penderita skizofrenia lebih dari dua juta orang. Skizofrenia lebih sering terjadi pada populasi urban dan pada kelompok sosial ekonomi rendah.

Di Indonesia, prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun keatas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk.

Skizofrenia merupakan gangguan psikiatri yang menimbulkan disabilitas yang cukup luas, serta dicirikan oleh suatu siklus kekambuhan dan remisi 9. Pada Psychiatric Dictionary, Campbell mendefinisikan relaps adalah keadaan dimana pasien yang telah pulih atau mengalami  perbaikan  kembali memperlihatkan gejala sebelumnya.

Amelia dan Anwar pada tahun 2013 melakukan penelitian kualitatif tentang relaps pada pasien skizofrenia dan menemukan beberapa fenomena yang menjadi peyebab relaps pada pasien skizofrenia yaitu faktor ekonomi, ketidakpatuhan pasien pada pengobatan, mendapat perlakuan kasar dan pertengkaran yang terus menerus dengan saudara kandung, konflik yang berkepanjangan dengan istri, dan emosi (marah) yang diekspresikan secara berlebihan oleh keluarga. Suatu kesimpulan dari riset klinis yang didasarkan pada studi lanjutan (follow-up) menyatakan bahwa beberapa faktor berkontribusi dalam membentuk episode psikotik yang baru (mengakibatkan terjadinya relaps) diantaranya yaitu ketidakpatuhan terhadap pengobatan, faktor-faktor farmakologik (dosis obat), faktor-faktor psikososial dan penyalahgunaan alkohol dan obat.