Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Dra. lesty Nurainy, Apt.,M.Kes.,(duduk kanan), Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) , H. Ferry Yanuar, SKM.,M.Kes. (duduk kiri), , Kepala Seksi P2P Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa (Keswa), dr. H. Icon H, berdiri belakang sekali tengah, bersama pengelola program PTM Provinsi, Kabupaten/Kota saat pelatihan Pos Pembinaan Terpadu - Posbindu, Hotel Wisata Palembang, Senin, 30/09/19.
Dinkes.sumselprov.go.id – Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel mengajak institusi untuk melibatkan peran serta masyarakat melalui Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU) Penyakit Tidak Menular (PTM). Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dra. Lesty Nurainy, Apt.,M.Kes. menjelaskan “untuk terlaksananya kegiatan Posbindu PTM diperlukan pelatihan Posbindu Institusi bagi pengelola program PTM di Kabupaten/Kota dan Puskesmas agar mencetak para tenaga yang nantinya akan menyelenggarakan Posbindu di wilayah kerjanya masing-masing” katanya. Lanjut Lesty menyatakan “Pelatihan Posbindu ini perlu dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posbindu agar dapat menyelenggarakan Posbindu antara lain melakukan deteksi dini faktor risiko PTM dan tindak lanjutnya secara mandiri di Institusi masing-masing” jelas Lesty kepada para peserta pengelola program kabupaten kota, Hotel Wisata, Senin, 30/09/19.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Dra. lesty Nurainy, Apt.,M.Kes.,(duduk kanan), Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) , H. Ferry Yanuar, SKM.,M.Kes. (duduk kiri), , Kepala Seksi P2P Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa (Keswa), dr. H. Icon H, berdiri belakang sekali tengah, bersama Institusi Biro Kesra Kabupaten/Kota saat pelatihan Pos Pembinaan Terpadu – Posbindu, Hotel Wisata Palembang, Senin, 30/09/19.

Sebagaimana diketahui Peningkatan prevalensi PTM berdampak terhadap beban pembiayaan kesehatan yang harus ditanggung negara dan masyarakat. Penyandang PTM memerlukan biaya relatif mahal, terlebih bila kondisinya berkembang semakin lama (menahun) dan terjadi komplikasi hingga terjadi kondisi disabilitas.  Data pusat pembiayaan jaminan kesehatan Kementerian Kesehatan RI tahun 2012 menunjukkan bahwa PTM menghabiskan biaya pengobatan yang cukup besar bila dibandingkan dengan biaya pengobatan tertinggi dari seluruh penyakit menular.