Cegah Stunting Di OKI Gelar Pertemuan Lintas Sektor dan Program

0
10
Duduk bersama dalam Pertemuan Lintas Sektor dan Lintas Program Dalam Rangka Pencegahan Stunting di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Asisten Dua Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kab. Kabupaten OKI, Drs. H. Zulkarnain, MM (dua kiri), Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, H. Fery Fahrizal, SKM.,M.Kes, (kiri), Kepala Dinas Kesehatan OKI, H. M. Lubis, SKM,M.Kes.(dua kanan), Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, dr. Heri (kanan), Kamis, 31/10/2018.

Dinkes.sumselprov.go.id – – Ogan Komering Ilir (OKI), Dinas Kesehatan Kabupaten OKI melaksanakan pertemuan lintas sektor dan lintas program serta audiensi antara Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan dengan Ka.TP PKK Kab OKI. Pertemuan Lintas Sektor dan Lintas Program Dalam Rangka Pencegahan Stunting di Kab. OKI. dihadiri oleh OPD terkait seperti Bappeda, PMD, Dinsos, dll, serta Camat, Kades, termasuk Ka.Puskesmas dari 5 Kecamatan Lokus Stunting, kemudian organisasi profesi seperti IBI, HAKLI, Persagi, IDI. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengatakan “sebagian besar masyarakat belum banyak yang memahami istilah stunting, yaitu masalah kurang gizi kronis dalam waktu yang cukup lama sehingga mempengaruhi tumbuh kembang anak..” katanya, lanjut lagi lubis mengatakan “untuk mengkaji dan mengevaluasi kegiatan intervensi 2019 – 2020 secara bersama sama harus adanya koordinasi untuk penanggulangan stunting.. tujuan diantaranya adalah untuk membangun komitmen bersama penurunan stunting terintegrasi di Kabupaten OKI., tentunya output dari pertemuan ini adanya aksi konvergensi pencegahan stunting dari OPD Terkait termasuk peran serta masyarakat”. kata Lubis, Dinesti, kamis, 31/10/2019.

Pada kesempatan yang sama , Asisten Dua Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kab. OKI, Drs. H. Zulkarnain, MM., menyampaikan “Kabupaten OKI telah berkomitmen dalam upaya pencegahan stunting secara terintegrasi melalui Peraturan Bupati tentang pembentukan tim koordinasi pencegahan dan penaggulangan stunting dan surat edaran tentang komunikasi perubahan perilaku masyarakat.. seluruh OPD terkait harus sering duduk bersama” katanya.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, H. Fery Fahrizal, SKM.,MKM mengajak semua unsur untuk peduli terhadap upaya intervensi pencegahan stunting dengan cara mensosialisasikan ke masyarakat luas, agar masyakarat semakin mengenal stunting itu apa. Bisa melalui Medsos, facebook, instagram. Pokoknya bagaimana kita memviralkan stunting ini. Fery mengatakan “intervensi 1000 hari pertama kehidupan dimulai dari ibu hamil, dijaga agar jangan terjadi anemia dan kurang energi kronik, kalau berhasil memastikan tidak terjadi anemia dan KEK pada ibu hamil maka kita sudah separuh mencegah anak agar tidak stunting (Pendek dan Sangat Pendek), kemudian juga bagaimana memastikan dan mengawal Bayi baru lahir sampai umur 6 bulan mendapatkan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan Asi ekslusif. Tidak berhenti sampai disitu, selanjutnya bagaimana memastikan dan mengawal  anak sampai umur 2 tahun disamping mendapatkan ASI juga makanan pendamping asi  dan dipantau tumbuh kembangnya berjalan dengan baik, maka insya Allah anak akan tumbuh dan berkembang secara normal, tidak terjadi stunting. Permasalahan yang sedang kita hadapi adalah, masih ditemukan ibu hamil tidak meminum tablet tambah darah secara tuntas selama kehamilan sehingga beresiko terjadi anemia. Berdasarkan Riskesdas 2018, Ibu hamil yang tidak meminum ttd, dikarenakan tidak mengetahui pentingnya meminum ttd, karena pada saat petugas memberikan ttd tidak disertai edukasi yang lengkap. Menurut hemat saya, keberhasilan pencegahan stunting terletak pada sejauhmana kita Memastikan dan Mengawal Intervensi kepada 1000 HPK berjalan dengan baik dan tuntas. Contoh bagaimana kita Mengawal Ibu Hamil agar tuntas meminum ttd ? Pengawalan seperti apa yang bisa kita lakukan ? Siapa yang mampu mengawal 24 jam ibu hamil ? Jawabnya yang mampu mengawal 24 hanya hanya ibu hamil itu sendiri, yaitu dengan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan pentingnya meminum ttd secara tuntas.  kemudian setelah ibu hamil itu sendiri, orang terdekat yang harus mengawal yaitu suami atau orang yang ada dalam rumah tangga. Kemudian tidak cukup sampai disitu, pengawalan harus dilakukan oleh tetangga-tetangganya. sampai disini, kita teringat dengan Dasawiswa yaitu 10 rumah tangga. Dasawisma adalah lembaga masyararat yang terdekat dengan rumah tangga, dengan memberdayakan ketua dasawisma tentang pengawalan intervensi pencegahan stunting ini, Insya’Allah memberikan keberhasilan yang significan terhadap pencegahan stunting. Makanya kita Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, berupaya untuk bekerjasama dengan PKK, dimulai dengan Menobatkan Ka.TP PKK Provinsi sebagai Duta Cegah Stunting, kemudian akan diikuti oleh penobatan Ka.TP PKK Kabupaten/Kota untuk menjadi Duta Cegah Stunting di Kab/Kota masing-masing. Tujuannya adalah untuk meningkatkan sosialisasi ke masyarakat tentang stunting ini, yang kedua memberdayakan dasawisma untuk mengawal intervensi pencegahan stunting di tingkat rumah tangga” jelas fery dalam sebagian paparan pertemuannya.