malariasedunia

Dirilis dari link website WHO :https://www.who.int/indonesia/news/events/world-malaria-day/2023#:~:text=World%20Malaria%20Day%2025%20April%202023

Hari Malaria Sedunia 2023 akan diperingati dengan tema “Waktunya mewujudkan bebas malaria : investasi, inovasi, implementasi”.

Dalam tema ini, WHO akan fokus pada “i” ketiga – implementasi – dan terutama pentingnya menjangkau populasi terpinggirkan dengan alat dan strategi yang tersedia saat ini.

Investasi
Menurut Laporan Malaria Dunia WHO 2022, kesenjangan pendanaan antara jumlah yang diinvestasikan dalam penanggulangan malaria global (US$ 3,5 miliar) dan sumber daya yang dibutuhkan (US$ 7,3 miliar) telah melebar, terutama selama 3 tahun terakhir – meningkat dari kekurangan sebesar US$ 2,6 miliar pada 2019 menjadi US$ 3,5 miliar pada 2020 dan US$ 3,8 miliar pada 2021.

Terlepas dari kontribusi negara dan mitra yang signifikan, penambahan Dana Global Ketujuh mengumpulkan US$15,7 miliar dari target yang diharapkan setidaknya US$18 miliar. Dengan berubahnya lingkungan ekonomi, ruang pendanaan untuk penanggulangan malaria menjadi semakin menantang.

Dalam lingkungan dengan sumber daya terbatas ini, penargetan dana yang tersedia dengan lebih baik sangat penting. Pendanaan harus diprioritaskan untuk populasi paling rentan yang kurang mampu mengakses layanan dan paling terpukul ketika mereka sakit. Pembiayaan yang memadai dan dapat diprediksi sangat penting untuk mempertahankan kemajuan dalam upaya memerangi malaria.

Inovasi
Terlepas dari kemunduran baru-baru ini dalam pengendalian malaria, investasi dalam penelitian dan pengembangan memainkan peran penting dalam mengurangi beban global malaria selama 2 dekade terakhir. Pengembangan dan peluncuran besar-besaran tes diagnostik cepat (RDT), kelambu berinsektisida (ITN), dan terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT) telah menjadi tulang punggung penanggulangan malaria sejak 2000. Investasi berkelanjutan dalam pengembangan dan penyebaran alat generasi mendatang akan menjadi kunci untuk mencapai target malaria global 2030.

Di ruang kendali vektor, ada 28 produk baru kini sedang diteliti dan dikembangkan. Alat-alat yang dievaluasi termasuk, misalnya, jenis kelambu berinsektisida baru, umpan yang ditargetkan untuk menarik nyamuk, penolak nyamuk untuk ruangan, umpan rumah yang mematikan (tabung atap), dan rekayasa genetika nyamuk. Jika alat ini menunjukkan kemanjuran dalam mengendalikan penyakit, WHO akan mengembangkan rekomendasi kebijakan baru atau mengubah yang sudah ada untuk mendukung penerapannya di negara terdampak malaria.

Sejumlah vaksin malaria saat ini sedang dikembangkan. Seperti vaksin RTS,S, banyak dari vaksin ini menyasar parasit malaria sebelum memasuki hati manusia, tempat parasit dapat berkembang biak dengan cepat. Kandidat paling maju adalah R21, yang baru saja menyelesaikan uji klinis Fase 3. Kandidat vaksin lainnya berupaya menghentikan penularan parasit malaria, dan yang lainnya lagi untuk melindungi wanita selama kehamilan.

Diagnostik baru juga sedang dikembangkan. Untuk mengatasi masalah seputar penghapusan gen HRP2/3, yang membahayakan kinerja RDT yang mendeteksi malaria P. falciparum, para peneliti mengejar pengembangan diagnostik yang menggunakan biomarker alternatif. Diagnosis non-invasif menggunakan air liur dan urin adalah bidang investigasi lain yang berkembang, dengan potensi skrining cepat di luar pengaturan medis konvensional.

Di bidang obat antimalaria, mengembangkan pilihan pengobatan non-ACT menjadi prioritas bagi para peneliti dalam menghadapi munculnya dan menyebarnya resistensi parsial terhadap artemisinin. Obat-obatan generasi berikutnya sedang dalam tahap pengembangan – seperti “triple ACTs” yang mengandalkan kombinasi artemisinin dan 2 obat mitra untuk mengurangi risiko resistensi obat. Obat-obatan lain yang sedang dievaluasi menggunakan entitas kimia yang berbeda sebagai alternatif artemisinin dan turunannya; empat obat tersebut sedang dalam uji klinis.

Implementasi

Negara dan mitra yang terdampak malaria sangat dianjurkan menggunakan alat dan strategi yang direkomendasikan WHO serta sekarang tersedia untuk semua orang dengan risiko terkena malaria, khususnya mereka yang paling rentan.

Menurut laporan malaria dunia terbaru, negara-negara telah membuat beberapa kemajuan dalam memperluas akses ke layanan malaria untuk populasi paling berisiko. Namun, terlalu banyak orang dengan risiko tinggi terkena malaria belum mendapatkan layanan yang mereka butuhkan untuk mencegah, mendeteksi, dan mengobati penyakit tersebut.

Tantangan dalam memperluas akses ke layanan malaria telah diperparah, khususnya di Afrika sub-Sahara, oleh pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung, krisis kemanusiaan yang berkelindan, pendanaan yang terbatas, sistem pengawasan yang lemah, dan penurunan efektivitas alat utama untuk memerangi malaria.

Untuk mengatasi ancaman ini dan mendukung negara-negara dalam membangun program malaria yang lebih tangguh, WHO baru-baru ini menerbitkan panduan, strategi, dan kerangka kerja baru. WHO juga telah meningkatkan transparansi, fleksibilitas, dan akses terhadap rekomendasi malarianya.

Selain mengatasi tantangan teknis yang dihadapi implementasi, terdapat kebutuhan kritis untuk mengatasi hambatan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan yang berkualitas. Investasi dalam sistem kesehatan yang berfungsi dengan baik, yang dibangun di atas dasar perawatan kesehatan primer, dapat memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat di dekat tempat tinggal dan tempat kerja mereka, sekaligus mengurangi biaya perawatan dan meningkatkan pemerataan.

Kunci sukses: sistem kesehatan yang kuat

Di negara-negara berpenghasilan rendah, kualitas perawatan kesehatan yang buruk berdampak pada lebih banyaknya kematian ketimbang kurangnya akses ke perawatan. Meskipun jumlah anak yang menerima diagnosis dan perawatan di sektor publik sedikit meningkat, kita perlu upaya lebih besar untuk memastikan kualitas perawatan, yang mencakup pasokan obat dan diagnosis penyelamat jiwa yang andal, serta mengatasi kekurangan kritis tenaga kesehatan.

Sistem kesehatan yang kuat adalah tulang punggung respons sukses terhadap malaria. Sistem kesehatan perlu direorientasi secara radikal menuju perawatan kesehatan primer di Puskesmas. Sekitar 90% layanan kesehatan esensial dapat diberikan melalui Puskesmas, termasuk banyak layanan untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, dan menghindari kebutuhan akan perawatan sekunder dan tersier lebih mahal. Mengambil keuntungan penuh dari pendekatan Puskesmas akan memungkinkan intervensi kesehatan di tingkat masyarakat dan memperluas jangkauan layanan kesehatan.